Buletin Diagnostik Iklim Ekstrem

Kabupaten Ogan Komering Ilir 17 April 2021

Prediksi kondisi iklim OKI satu bulan ke depan: Fase BASAH DI ATAS NORMAL

 

Kondisi perkembangan iklim dan cuaca di Kabupaten OKI pada satu bulan terakhir telah mengalami peningkatan curah hujan. Nilai akumulasi curah hujan satu bulan terakhir periode 17 Maret – 16 April 2021 meningkat hampir dua kali lipatnya dibandingkan pada periode 17 Februari – 16 Maret 2021. Akktifitas Muson seharusnya telah berada pada puncak Musim Peralihan I, akan tetapi variasi Western North Pacific Monsoon Index (WNPMI) masih memperlihatkan pola variasi seperti halnya pada Musim Barat. Oleh karena itu, kondisi ini mengakibatkan gangguan anomali angin dan curah hujan yang dominan akan berfluktuasi secara ekstrim. Suhu permukaan laut di perairan Benua Maritim Indonesia (BMI) dan sekitarnya hampir merata berada pada anomali positif sehingga mengakibatkan wilayah Indonesia dan sekitarnya akan mengalami depresi tekanan rendah yang dapat memicu dan membawa siklon tropis di sekitar perairan ini.

 

Fase Madden Julian Oscillation (MJO) pada saat ini mengalami penguatan dan berada pada fase-7 di Samudera Pasifik setelah dengan lemah berada di BMI selama 9 hari. Aktifitas Indian Ocean Dipole (IOD) secara lemah terjadi peningkatan menjadi anomali positif yang memberikan peluang telah terjadi peningkatan anomali suhu permukaan laut di sebelah barat ekuatorial Samudera Hindia sehingga akan mengurangi anomali suhu permukaan laut di BMI. Kondisi indeks Nino3.4 yang salah satunya memperlihatkan La Nina, masih stagnan berapa pada anomali negatif menunjukan bahwa fenomena La Nina masih terus berlangsung. Hal ini juga diperkuat oleh kedalaman lapisan termoklin di sebelah barat ekuatorial Samudera Pasifik. Meskipun nilai Southern Oscillation Index (SOI) terjadi pelemahan mencapai nilai sekitar nol, akan tetapi kecenderungannya pada beberapa bulan mendatang akan meningkat kembali dan dikuatkan oleh Oceanic Nina Index (ONI) yang juga masih berada pada anomali negatif. Hal ini memperlihatkan aktifitas La Nina masih terus berlangsung dan mengalami pelemahan tetapi masih perlu diwaspadai jika terjadi peningkatan kembali.

 

Akumulasi curah hujan tertinggi selama satu bulan terakhir pada kabupaten di sekitar Kabupaten OKI yaitu berturut-turut adalah Kabupaten OKI yaitu sebesar 674 mm, Ogan Ilir sebesar 662 mm, Banyuasin sebesar 589 mm dan Ogan Komering Ulu Timur sebesar 407 mm. Sementara itu, curah hujan per jam terbesar berturut-turut yaitu Kabupaten Ogan Ilir sebesar 20 mm/jam, OKI sebesar 13 mm/jam, Ogan Komering Ulu Timur sebesar 11 mm/jam dan Banyuasin sebesar 10 mm/jam (Gambar 1). Peningkatan curah hujan komulatif dan intensitas curah hujan di Kabupaten OKI dan sekitarnya ini akan secara signifikan menurunkan nilai dari Forrest Weather Index (FWI) secara signifikan sehingga potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten OKI akan sangat kecil baik secara alamiah maupun faktor manusia. Kondisi basah pada lahan gambut dan tinggi muka air tanah akan cenderung semakin meningkat sehingga peluang bahan bakaran untuk terjadinya kebakaran hutan dan lahan menjadi sangat kecil sekali untuk terjadi.

 

Gambar 1.     Curah Hujan Rata-rata seluruh Wilayah tiap Jam-an dalam mm/jam (biru) dan Curah Hujan kumulatif dalam satu bulan terakhir dalam mm (merah) di tiap Kabupaten Ogan Komering Ilir, Banyuasin, Ogan Ilir dan OKU Timur dari Data yang diolah melalui Pengamatan Citra Satelit SPR, TRMM/PR dan GPM/DPR.

Penyebab dari peningkatan curah hujan di wilayah Kabupaten OKI dan sekitarnya ini diduga karena meningkatnya suhu permukaan laut secara lokal di perairan sebelah barat dan timur Sumatera Selatan (Gambar 2). Peningkatan suhu permukaan laut ini akan memicu terjadinya proses penguapan dari massa air hangat yang menguap meningkatkan kandungan uap air di atasnya sehingga akan mempercepat dan memperbesar curah hujan apabila terjadi proses kondensasi yang dipicu dari angin dingin yang berasal dari pantai barat Australia. Selain itu, peningkatan suhu permukaan laut ini akan memicu penurunan tekanan udara di atas permukaan laut yang akan mengakibatkan terjadi zona depresi tekanan rendah sehingga akan menarik massa udara di sekitarnya yang memiliki potensi kandungan uap air yang tinggi dan berakibat meningkatnya curah hujan setelah terjadi proses kondensasi di atas wilayah Kabupaten OKI dan sekitarnya.

 

Pola anomali suhu permukaan laut di ekuatorial Samudera Pasifik masih jelas terbentuk fenomena La Nina meskipun terjadi pelemahan dibandingkan satu bulan yang lalu (Gambar 2). Pelemahan yang terjadi disebabkan meningkatnya anomali suhu permukaan laut di sebelah timur ekuatorial Samudera Pasifik karena pergerakan semu matahari yang mulai berada menjauh dari ekuatorial ke arah utara. Sementara itu, anomali suhu permukaan laut di perairan sebelah barat ekuatorial Samudera Pasifik tetap dalam kondisi yang tinggi. Hal ini membuat periode fase La Nina kuat ataupun moderat akan tetap berlangsung. Kondisi perpanjangan dan peningkatan fase La Nina ini juga akan berkontribusi terhadap peningkatan curah hujan di wilayah Kabupaten OKI dan sekitarnya. Oleh karena itu, potensi bahaya kebakaran di Kabupaten OKI akan cenderung kecil sehingga menurunkan nilai indeks peringkat bahaya kebakaran hampir di seluruh Kabupaten OKI. Sementara itu, aktifitas IOD mulai terjadi peningkatan dimana suhu permukaan laut di sebelah barat ekuatorial Samudera Hindia mulai meningkat dibandingkan di perairan ekuatorial sebelah barat Pulau Sumatera meskipun kecenderungan anomali positif masih mungkin terjadi di perairan ini. Oleh karena itu, peningkatan curah hujan di Kabupaten OKI yang disebabkan oleh IOD masih terlalu dini untuk dikatakan sebagai penyebabnya.